NIHMALIOBORO.COM – Pemerintah Kota Yogyakarta melalui Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi musim kemarau 2026. Selain mengantisipasi potensi kekeringan dan kebakaran, masyarakat diimbau mewaspadai fenomena bediding, yakni kondisi cuaca dengan suhu udara yang dingin pada malam hingga pagi hari, namun berubah menjadi panas pada siang hari.
Analis Kebijakan Ahli Muda BPBD Kota Yogyakarta, Iswari Mahendrarko, mengatakan langkah tersebut dilakukan menyusul prakiraan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) yang menyebut musim hujan berpotensi datang lebih lambat akibat pengaruh El Nino. Untuk meningkatkan kesiapsiagaan, BPBD mengoptimalkan operasional Pos BPBD Tegal Turi dan Tim Reaksi Cepat (TRC) yang bersiaga selama 24 jam.
“BPBD telah meningkatkan kesiapsiagaan melalui Pos BPBD Tegal Turi dan Tim Reaksi Cepat yang bersiaga selama 24 jam untuk memantau perkembangan kondisi di lapangan sekaligus mempercepat penanganan apabila terjadi keadaan darurat,” kata Iswari, Jumat (10/7).
Ia menjelaskan, fenomena bediding merupakan kondisi yang umum terjadi saat puncak musim kemarau. Berkurangnya tutupan awan menyebabkan panas matahari lebih mudah mencapai permukaan bumi pada siang hari, sementara pada malam hari panas lebih cepat dilepaskan ke atmosfer. Kondisi tersebut diperkuat oleh angin Monsun Australia yang membawa massa udara kering dan dingin ke wilayah selatan Indonesia, termasuk Daerah Istimewa Yogyakarta.
Akibatnya, masyarakat merasakan perbedaan suhu yang cukup tajam, dengan suhu udara berkisar 19–21 derajat Celsius pada malam hingga pagi hari dan meningkat hingga 31–32 derajat Celsius pada siang hari.
Menurut Iswari, perubahan suhu yang ekstrem dapat meningkatkan risiko gangguan kesehatan, seperti infeksi saluran pernapasan akut (ISPA), batuk, flu, iritasi saluran pernapasan, dehidrasi, hingga heat stroke, terutama pada anak-anak, lansia, dan masyarakat yang banyak beraktivitas di luar ruangan.
BPBD juga mengingatkan masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi kebakaran selama musim kemarau. Vegetasi yang mengering, suhu udara yang tinggi, dan angin yang cukup kencang membuat api lebih mudah menyebar apabila terjadi kelalaian.
“Kami mengimbau masyarakat agar tidak membakar sampah sembarangan, tidak membuang puntung rokok di lahan kering, serta memastikan instalasi listrik di rumah dalam kondisi aman untuk mencegah terjadinya kebakaran,” ujarnya.
Masyarakat juga dianjurkan menjaga kondisi tubuh dengan mengenakan pakaian hangat pada malam dan pagi hari, memperbanyak konsumsi air putih, mengonsumsi makanan bergizi, menggunakan masker saat berada di lingkungan berdebu, serta membatasi aktivitas di luar ruangan pada siang hari jika tidak mendesak.
Selain meningkatkan kesiapsiagaan personel, BPBD Kota Yogyakarta terus melakukan edukasi melalui sosialisasi di berbagai kemantren dan program Kampung Tangguh Bencana. Berdasarkan pemantauan telemetri real-time melalui Pusat Pengendalian Operasi (Pusdalops), elevasi muka air di tiga sungai utama Kota Yogyakarta hingga Juli 2026 masih relatif stabil. Meski demikian, masyarakat tetap diimbau menghemat penggunaan air sebagai langkah antisipasi apabila musim kemarau berlangsung lebih panjang akibat pengaruh El Nino.





